Minggu, 17 April 2016




                                    BAB III

TEORI KETERGANTUNGAN (1): PARA PENDAHULUNYA

Pada bagian ini membahas teori-teoi yang merupakan pendahuluan bagi munculnya teori ketergantungan. teori ketergantungan memakai pendekatan struktural. karena itu, teori ini dapat digolongkan ke dalam kelompok teori Struktural.

I.                   SERBA SEDIKIT TENTANG TEORI STRUKTURAL
Teori struktural sebenarnya merupakan teori-teori yang memakai pendekatan sruktural.
teori struktural sendiri memang berpangkal pada filsafat naturalisme yang dikembangkan oleh Karl Max. tetapi, diuraikan diatas, teori ketergantungan menambah tesis Max yang menyatakan bahwa kapitalisme akan menjadi cara produksi tunggal, dan menciptakan proses maupun struktural masyarakat yang sama di semua Negara yang ada di dunia ini.

1.      Raul Prebisch: Industri Substitusi Impor
Raul prebisch adalah seorang ahli ekonomi Liberal, yang menjadi sekretaris eksekutif sebuah lembaga PBB yang didirikan pada tahun 1948 di Santiago de Chile. Prebisch adalah presiden direktur Bank sentra Argentina. pada tahun 1950 perhatian Prebisch tertuju pada persoalan yang di uraikan di atas: mengapa Negara-negara yang melakukan spesialisasi di bidang industry menjadi Negara-negara kaya, sedangkan mereka yang memilih bidang pertanian tetap saja miskin.
 Prebisch menunjukan pada penurunan nilai tukar dari komoditif pertanian terhadap komoditi barang industry. barang-barang industry menjadi semakin mahal di bandingkan dengan barang-barang hasil pertanian. gejala yang jelaskan pertama: karena permintaan untuk barang-barang pertanian tidak elastic. disini berlaku apa yang disebut sebagai Hukum Engels, yang menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi makanan terhadap pendaptan jusruh menurun. kedua: Negara-negara industry sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanian mereka sendiri, sehingga sulit bagi Negara pertanian untuk mengekpornya kesana. nin memperkecil jumlah ekspor Negara pinggiran ke Negara pusat. ketiga: kebutuhan akan bahan mentah  bisa dikurangi sebagai akibat dari adanya penemuan-penemuan teknologi baru yang bisa membuat bahan-bahan mentah sintesis. hal ini memperkecil jumlah ekpor dari Negara-negara pinggiran ke Negara pusat.
Prebisch juga merupakan orang pertama yang mencetuskan istilah Negara pusat untuk Negara-negara industry maju, Negara pinggiran untuk Negara-negara pertanian yang belakang. istilah ini kemudian menjadi istilah kunci yang sering dipakai oleh para penganut teori ketergantungan.


2.      Perdebatan tentang Imperialism dan Kolonialisme
Ada tiga kelompok teori tentang imperialisme dan kolonialisme yakni:
a)      kelompok teori yang menekankan pada idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan ajaran tuhan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
b)      kelompok teori yang menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi maupun kebesarab masyarakat dan kebesaran Negaranya.
c)      kelompok teori yang menekankan pada keselarasan manusia, yang selalu berusaha mencari tambaahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi.
Ketiga kelompok ini dirumuskan sebagai kelompok-kelompok teori God. pembahasan tentang teori kelompok-kelompok ini:
a.       Teori God adalah teori yang menyatakan bahwa motivasi utama dari orang-orang eropa untik mengurangi samudra dan bertualang di Negara-negara lain adalah untuk menyelamatkan agama.
b.  Teori Glory menjelaskan bahwa dorongan utama dari implerialisme dan kolonialisme bukan kepentingan agama atau ekonomi, melainkan kehausan akan kekuasaan.
c. Teori Gold menjelaskan implerialisme dan kolonialisme melali motivasi keuntungan ekonomi.

3.      Paul Baran: Sentuhan yang mematikan dan Kretinisme
Paul baran adalah seorang pemikir Marxis yang menolak pandangan Marx tentang pembangunan di Negara-negara dunia ketiga.
Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di Negara-negara pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di Negara-negara pusat.dinegara-negara pinggiran, system kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme. orang yang dihinggapi penyakit kerdil dan tidak bisa besar.
menurut Baran kapitalisme di Negara-negara pusat bisa nerkembang karena adanya persyaratan:
a.       meningkatnya produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani dari padesaan.
b.   meningkatnya produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang menjadi buruh yang menjual tenaga kerjanya sehingga sulit menjadi kaya, dan sebagian lagi menjadi majikan yang bisa mengumpulkan harta.
c.       mengumpulnya harta ditangan para pedagang dan tuan tana


                                    BAB IV

TEORI KETERGANTUNGAN (2): INTI PEMIKIRANNYA

Teori ketergantungan sendiri kemudian menentang pendapat kaum Marxis klasik yang beranggapan bahwa (1) Negara-negara pinggiran yang prakapitalis merupakan Negara-negara yang tidak dinamis, yang memakai cara produksi asia yang berlainan dengan cara produksi feudal di eropa yang menghasilkan kapitalisme, dan (2) Negara-negara pinggiran ini, setelah disentuh oleh kapitalis maju, akan bangun dan berkembang mengikuti jejak Negara-negara kapitalis maju.
Theotonio Dos Santos member devinisi tentang teori ketergantungan:
Yang dimaksud dengan teori ketergantungan adalah keadaan dimana kehidupan ekonomi Negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi Negara-negara lain, dimana Negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. hubungan saling bergantung antara dua sistem-sistem ekonomi ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan ketergantungan bila ekonomi beberapa Negara (dominan) bisa berekspansi dan bisa berdiri sendiri, sedangkan ekonomi Negara-negara lainnya (yang tergantung) mengalami perubahan hanya sebagai akibat dari ekspresi tersebut, baik positif maupun negatif.

I.                   TEORI KETERGANTUNGAN KLASIK

a.      Andre Gunder Frank: Pembangunan keterbelakangan
Frank adalah seorang ekonomi Amerika yang kemudian bekerja pada Economic Commission for Latin Amerika bersama Raul Prebisch.
keterbelakangan adalah sebuah proses ekonomi, politik sosial yang terjadi sebagai akibat globalisasi dari system kapitalisme. keterbelakangan di Negara-negaa pinggiran yang di katakan oleh Frank disebut sebagai (Negara satelit) adalah akibat langsung dari terjadinya pembangunan di Negara-negara pusat (Negara-negara metropolis).
Pada teori Frank jelas ada tiga komponen utama:
a.       Modal asing
b.      Pemerintah lokal di negara-negara satelit
c.       Kaum berjuasinya

ciri-ciri dari perkembangan dari kapitalisme satelit adalah:
a.       kehidupan ekonomi yang tergantung
b.      terjadinya kerja sama antara modal asing dengan klas-klas yang berkuasa di Negara-negara satelit, yakni para penjabat pemeritah, klas tuan tanah dan klas pedagang, dan
c.       terjadinya ketimpangan antara yang kaya (klas yang dominan yang melakukan ekploitasi) dan yang miskin (rakyat jelata yang dieksplotir) di Negara-negara satelit.

b.      Theotonio Dos Santos: Membatah Frank
Dos Santos adalah orang yang memberi definisi ketergantungan, dia menyatakan bahwa Negara-negara pinggiran atau satelit bisa jiga berkembang, meskipun perkembangan ini merupakan perkembangan yang tergantung, perkembangan ikutan. implus dan dinamika perkembangan ini tidak datang dari Negara-negara satelit, tetapi dari Negara induknya. Frank dan Dos Santos adalah  tokoh yang sama mengemukakan tentang ketergantungan namun tetap berbeda pendapat dalam beberapa hal.
Dos Santos membedakan tiga bentuk ketergantungan yakni:
a.       ketergantungan Kolonial
kegiatan ekonomi utama adalah perdagangan ekspor dari hasil bumi yang dibutuhkan oleh Negara penjajag.
b.      ketergantungan finansial-industrial.
Negara pusat penanam modalnya, baik langsung atau melalui kerjasa dengan pengusaha lokal untuk menghasilkan bahan baku ini.
c.       ketergantungan teknilogi-industrial
kegiatan ekonomi di Negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk keperluan industry di Negara pusat.
Ada tiga hambatan yang di bahas oleh Dos Santos:
1.   Negara-negara pinggiran yang mau melakukan industrialisasi membutuhkan valuta asing untuk mengimpor teknologi.
2.      Neraca perdagangan internisional Negara-negara pinggiran terus mengalami defisit, karena:
a.       Nilai tukar yang terus menurun dari komoditi primer terhadap industri, sebagai akibat harga barang-barang industry yang terus meningkat.
b.   Di Negara-negara pinggiran, sektor ekonomi yang paling dinamis biasanya dikuasai oleh modal asing.
c.      oleh karena itu, pinjaman luar negeri menjadi tinggi.
3.      Adanya monopoli teknologi dari Negara-negara pusat membuat Negara-negara pinggiran harus  membayar sewa billa mau meminjam teknologi tersebut.



II.                MEMBANTAH TEORI KETERGANTUNGAN: INDUSTRIALISASI DI NEGARA PINGGIRAN
                      
                       Teori ketergantungan adalah tentang kemungkinan pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi di Negara-negara pinggiran. kritik ini sebenarnya diarahkan kepada Paul Baran dan Andre Gunder Frank yang menyatakan bahwa proses industrialisasi akan dihambat karena elite yang dominan di Negara pinggiran yakni kelompok tuan tanah dan para pedagang serta Negara yang dikuasai oleh kelompok tuan tanah, akan lebih diuntungkan bila barang-barang industry diperoleh melalui impor dan luar negeri.

                       Pengalaman empiris menunjukan bahwa prospek bagi pembangunan kapitalis yang berhasil(artinya industrialisasi) pada sejumlah besar Negara-negara berkembang yang utama, tampaknya cukup baik, bahwa kemajuan yang berarti dari industrialisasi kapitalis memang telah tercapai, bahwa priode setelgah perang Dunia II ditandai dengan perkembangan yang berhasil dari kapitalisme di Dunia ketiga (terutama dalam industrialisasi)…. bahwa kebijakan Negara-negara imprelialis dan dampaknya terhadap dunia ketiga dalam kenyataannya mendorong proses industrialisasi, bahwa ikatan ketergantungan… menjadi semakin kendor… semua ini tidak berarti bahwa imperlialisme sudah hilang. imperlialisme memang masih ada sebagai sebuah system ketimpangan, dominasi dan eksloitasi. yang mau di katakan di sini adalah tidak bisa di sangkai bahwa perubahan-perubahan telah terjadi.
                      
                       Dengan demikian lahirlah apa yang disebut oleh Evans sebagai Aliansi Tripel, yakni kerjasama antara: (1) modal asing, (2) pemerintah di Negara pinggiran yang bersangkutan, dan (3) berjuasi lokal. Tujuan kerjasama tersebut terutama adalah untuk mendapatkan legitimasi politik, supaya pemerintah tersebut dapat diterima sebagai Negara nasional yang memperjuangkan kepentingan bangsa.

nosionalisme memberikan basis ideology bagi terselenggaranya akumulasi modal di Negara tersebut, dank arena itu sangat berguna untuk berargumentasi melawan perusahaan-perusahaan multinasional. nasionalisme memberikan legitimasi bagi birokrat pemerintah untuk menjalankan perannya di mata borjuasi lokal. Nasionalisme juga merupakan satu-satunya basis dimana pemerintah dapat menyatakan kepada rakyat banyak bahwa mereka sedang menjalankan pembangunan nasional, yang hasilnya nanti akan dinikmati oleh segala lapisan masyarakat.

Demikian Evans memberikan ciri-ciri dari apa yang disebutnya sebagai pembangunan dalam ketergantungan, lengkap denagan analisis tentang aliansi tripelnya.
Kalau ketergantungan klasik dihubungkan dengan Negara yang lemah, pembangunan dalam ketergantungan di hubungkan dengan Negara yang kuat. bahkan konsolidasi Negara hingga  menjadi kuat dapat dikatakan menjadi prasyarat bagi terjadinya tahap pembangunan dalam ketergantunagan.

III.             TEORI KETERGANTUNGAN: KRITIK DAN POLEMIK SELANJUTNYA

1.      Kritik Packenham
Mila-mula menyebutkan kekuatan dari Teori Ketergantungan. Dia mencatat:
1.   teori ketergantungan menekankan aspek internasional dari pembangunan nasional di Negara-negara Amerika latin. Aspek ini kurang di perhatikan pada teori-teori yang ada sebelumnya.
2.   Teori ketergantungan mempersoalkan akibat dari politik luar negeri Negara-negara industry terhadap Negara-negara pinggiran (dalam hal ini di Negara-negara Amerika latin). pendekatan yang kedua ini kurang bisa melihat dinamika yang ada di Negara-negara berkembang.
3.  Teori ketergantungan membahas proses internal dari perubahan di Negara-negara pinggiran dengan mengaitkannya pada politik luar negeri negara-negara maju.
4.    Teori ketergantungan menekankan kegiatan sektor swasta dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional, disamping kegiatan pada publik seperti bantuan luar negeri dan diplomasi politik.
5.    Teori ketergantungan membahas hubungan antar-klas yang ada didalam negeri maupun hubungan klas antar-negara dalam konteks internasional.
6.   Teori ketergantungan memberikan kritik yang baik terhadap definisi yang ada tentang pembangunan ekonomi. teori ketergantungan mempersoalkan bagaimana kekayaan nasional ini dibagikan di antara klas-klas sosial, antar-daerah, dan antar-negara.
Kemudian Packenham, dalam sisa tulisannya, membahas kelemahan dari teori ketergantungan:
1.      Teori ketergantungan hanya menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab ketergantungan, tanpa mempersoalkan perbadaan-perbadaan kekayaan dan kekuasaan pada system ekonomi yang lain.
2.      Konsep-konsep inti, termasuk konsep ketergantungan ini sendiri, kurang didefinisikan secara jelas.
3.      Ketergantungan didefinisikan sebagai konsep dikotomi. padahal, semua Negara tidak ada yang sepenuhnya tergantung, juga tidak sepenuhnya otonom.
4.      Sedikit sekali dibicarakan tentang proses yang memungkinkan sebuah Negara bisa lepas dari ketergantungannya. Frank menyebutkan sebuah revolusi sosialis. Helio Jaguaribe menyebut dua cara: (a) melalui reformasi, yakni melalui kebijakan pembangunan yang nasionalis yang merupakan kombinasi antara kapitalisme nasional dan kapitalisme Negara. (b) melalui jalan revolusi.
5.      Ketergantungan selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif, meskipun dalam situasi tertentu sebenarnya dapat berakibat positif.
6.      Otonomi selalu dianggap baik, padahal tidak demikian halnya. Seperti juga ketergantungan tidak selalu buruk, begitu juga otonomi tidak selalu baik.
7.      Teori ketergantungan kurang membahas aspek psikologis dari ketergantungan.
8.      Teori ketergantungan agak menyepelekan kekuatan dari nasionalisme di Amerika Latin, meskipun secara normatif teori ini member nilai yang tinggi terhadap nasionalisme.
9.      Teori ketergantungan sangat menekankankonsep kepentingan kelompok, klas dan Negara, seakan-akan konsep-konsep ini merupakan sesuatu yang jelas dan objektif.
10.  Teori ketergantungan seringkali terlalu jauh beraggapan bahwa ada kepentingan yang bebeda antara Negara-negara pusat dan Negara-negara pinggiran.
11.  Teori ketergantungan, karena ketidak jelasan konsepnya, tidak bisa diuji kebenarannya.
12.  Teori ketergantungan terlalu meremehkan kebebasan bertindak dari pada actor politik di Negara-negara yang di kaji.
13.  akibat-akibat dari ketergantungan kurang dikaji secara rinci dan tajam.

2.      Penelitian Chase-Dunn
Dia menguraikan tentang mekanisme investasi asing dan ketergantungan pada utang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang negative.
a.      Akibat investasi asing, sumber-sumber alam di Negara pinggiran jadi habis. laba dari invetasi diangkut ke luar negeri. Negara-negara pinggiran kehilangan sumber bagi pembangunan.
b.      Produksi yang berorientasi ke luar negeri dan masuknya perusahaan-perusahaan multinasional mengubah struktur ekonomi Negara pinggiran.
c. Hubungan antara elite di Negara pusat dan pinggiran mencegah terjadinya pembangunan nasional, karena ini akan merugikan kepentingan mereka.
Investasi modal asing bisa juga berakibat positif bagi pertumbuhan ekonomi Negara pinggiran:
a.   Modal asing langsung memproduksikan barang dan menimbulkan permintaan bagi barang-barang lain yang diperlukan bagi produksi tersebut.
b.  Utang luar negeri membiayai pembangunan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk pembangunan.
c. Terjadi transfer teknologi, perbaikan kebiasaan kerja, modernisasi organisasi pembangunan, dan sebagainya berguna bagi pembangunan.

3.      Komentar kardoso
    Cardoso menguraikan lahirnya diskusi tentang lahirnya masalah ketergantungan dibeberapa Negara Amerika Latin. yang  dipersoalkan pada waktu itu adalah bagaimana mengerti proses historis terjadinya keterbelakangan di Negara-negara tersebut. mereka ingin mengerti apa yang terjadi dengan struktur sosial politik dan sosial ekonomi di Negara-negara pinggiran, yang memproduksikan keterbelakanga, setelah disentuh oleh Negara-negara kapitalis maju.
Yang dibahas diatas merupakan topik, kritik dan polemik dari beberapa penganut dan penentang teori ketergantungan. pembahasannya serba singkat. masih banyak persoalan serba nuansa teorin ketergantungan yang belum sempat dibacarakan.

  Sekarang akan dicoba disimpulkan beberapa topik utama yang menjadi inti teori ketergantungan. inti ini sudah dibicarakan dalam pembahasan diatas, baik dalam bentuk uraian yang agak panjang ataupun hanya disinggung saja. Fungsi dari kesimpulan ini, di samping untuk mengingatkan dan menyatukan masalah yang sudah dibahas, juga memberi tekanan dan pembahasan lebih lanjut pada masalah-masalah yang baru disinggung, atau belum dibahas pada uraian di atas.
Ada 6 pokok-pokok pembahasan menurut Blomstrom dan Hetten yang menjadi inti pembahasan teori ketergantingan yakni:

1.      Pendekatan  keseluruhan melawan pendekatan kasus.
       Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhannya yang memberi tekanan pada system dunia. ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, di mana Negara-negara pinggiran kebagian peran sebagai pelengkap penyerta saja. keseluruhan dinamika dan mekanisme dunialah yang menjadi perhatian pendekatan ini. kasus Negara-negara yang ada hanya merupakan bagian dari keseluruhan dinamika ini, yang tidak banyak menentukan. Andre Gunder Frank, misalnya, merupakan wakil dari pendektan ini.
Pendekatan lain lebih mengutamakan analisis pada arah kasus negara-negara yang tergantung. jadi pada aspek unsure atau komponen dari lkeseluruhan ini. misalnya, Cardoso yang menentukan bahwa analisis ketergantungan empiris lebih memperhatikan proses-proses yang terjadi di Negara yang tergantung, dari pada teori-teori umum yang bersifat makro.

2.       Faktor Eksternal melawan Internal
    Persoalannya, factor apa yang paling menentukan dalam proses pembangunan di Negara-negara pinggiran, factor eksternal atau internal?
Sebagai pengikut teori ketergantungan beranggapan bahwa faktor eksternallah yang lebih penting. tentu saja, ini tidak berarti factor internal tisak berperan. tetapi factor eksternal lebih ditekankan, seperti misalnya pada tulisan-tulisan Frank. Dos Santos secara lebih lunak berbicara tentang factor ekternal yang mempengaruhi proses pembangunan di Negara-negara pinggiran, bukanmenentukan. memang dia tidak merinci secara jelas perbedaan kedua istilah ini. tetapi kelas dia menentukan pentingnya pengaruh dari luar, meskipun tidak mutlak menentukan. Artinya, factor-faktor unternal pun berperan.
Kelompok kedua penganut teori ketergantungan lebih menekankan factor internal. Cardos dan Faletto menekankan factor internal ini. Reaksi dari tiap-tiap Negara terhadap pengaruh factor eksternal berbeda-beda, tergantung dari perbedaan aliansi klas yang ada di dalam negeri masing-masing Negara tersebut. Augustin Cueva, seperti dikutip oleh Blomstrom dan Hetten bahkan menyatakan: bukankah kondisi yang ada di dalam negeri sendiri yang menentukan hubungan kita dengan kapitalisme dunia? Ini jelas menunjukkan bahwa factor internal menjadi sangat penting dalam menentukan analisis tentang gejala ketergantungan.


3.      Analisis Ekonomi melawan Analisis Sosiopolitik
    Pencetus teori ketergantunagan, dan pemikir-pemikir sesudahnya, kebanyakan adalah para ekonomi. Raul Prebisch sendiri memulainya dengan memakai analisis ekonomi., dan penyelesaian yang ditawarkannya juga bersifat agak murni ekonomi. Andre Gunder Frank juga seorang ekonomi meskipun analisisnya banyak memakai disiplin ilmu sosial lainnya, terutama sosiologi dan politik. dengan demikian, teori ketergantungan dimulai sebagai masalah ekonomi, dan baru kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik., dimana analisis ekonomi merupakan bagian dari pendekatan yang multi dan interdisipliner ini.
sosiopolitik terutama menekankan pembahasan tentang analisis klas, kelompok-kelompok sosial, dan peran pemerintah di Negara-negara pinggiran. Cardoso dan Faleto banyak membahas stuktur sosial yang ada di Negara pinggiran, serta proses pengambilan keputusan oleh Negara.

4.      Kontradiksi sektoral/regional melawan kontradiksi klas
    salah satu kelompok penganut teori ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan Negara-negara pinggiran. ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi regional. sekali lagi, Frank dapat dianggap sebagai tokoh untuk kelompok ini. hubungan antar-negara dalam system ekonomi kapitalisme global menjadi perhatian utama.
sedangkan kelompok lainnya lebih menekankan analisis klas, seperti misalnya Cardoso, meskipun perlu dicatat bahwa Cardoso selalu mengingatkan bahwa klas yang ada di Negara-negara pinggiran berbeda dengan klas di Negara-negara pusat. analisis Cardoso memang selalu meletakkan permasalahan dalam konteks dimana masalah mengejala.

5.      Keterbelakangan melawan pembangunan
    Teori ketergantungan sering disamakan dengan toeri tentang keterbelakangan dunia ketiga. ketergantungan selalu berarti keterbelakangan, seperti yang dinyatakan oleh Frank.
para pemikir teori ketergantungan yang belakangan, meragukan tesis ini. Dos Sandos, Cardoso, Evans dan banyak lagi yang lain menyatakan bahwa ketergantunagan tidak selalu berarti keterbelakangan. yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan. Cardoso kemudian mengembangkan konsep association dependent delopment sedangkan Evans mengemukakan istilah dependent delopment.

6.      Voluntarisme melawan Determinisme

          penganut Marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai sesutau yang deterministik. masyarakat misalnya, pasti akan berkembang sesuai dengan harapannya: dari feodalisme ke kaputalisme, dan baru kemudian sampai pada sosialisme. karena itu, ketika teori ketergantungan berkembang di Amerika latin, banyak pemikir Marxis beranggapan bahwa mereka harus menciptakan kapitalisme dulu, (karena mereka beranggapan bahwa masyarakat Amerika latin masihfoedal), sebelum mengubahnya menjadi Negara sosialis.
Penganut noe-Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori ketergantungan. 

      menurut dia, masyarakat amerika latin bukan foedal, melainkan sudah kapitalistik. tetapi, berdeda dengan kaputalisme di Negara-negara pusat, nasib kapitalisme di Negara-negara pinggiran adalah keterbelakangan. karena itu, perlu di ubah menjadi Negara sosialis melaluyi sebuah revolusi. kita tidak bisa menunggu sampai Negara-negara pinggiran ini mengembangkan kapitalisme sendiri seperti di eropa, karena hal ini tidak akan terjadi. dalam hal ini, Frank menjadi penganut teori voluntiaristik. demikian juga para penganut teori ketergantungan yang lain, yang menolak teori tahapan yang ministik dari para penganut teori Marxis klasik.


                                                            BAB V

TEORI PASCA-KETERGANTUNGAN: PERKEMBANGAN BARU
         
    Apa hubungan antara teori system dunia ini dengan teori ketergantungan? Pertama, terjadi persamaan yang dekat antara teori ini dengan teori ketergantungan Andre Gunder Frank, keduanya melihat Negara tidak bisa analisis secara mandiri, terpisah dari totalitas system dunia. tetapi berbeda dengan Frank yang melihat hubungan antara Negara pinggiran dan Negara pusat sebagai hubungan yang selalu merugikan Negara yang  pertama, Wallerstein tidak sepesimis itu. bagi Wallerstein, dinamika sistem dunia, yakni kapitalisme global, selalu memberikan peluang bagi Negara-negara yang ada untuk naik atau turun kelas. system dunia yang dulu memberikan keunggulan pada Negara-negara yang bisa menghasilkan komoditi primer, pada saat lain keunggulan ini beralih kepada Negara-negara yang mengembangkan industrinya. system dunia ini juga yang kemudian member kesempatan kepada Negara-negara pinggiran yang sudah relatif siap untuk mengambil alih kesempatan untuk melakukan produksi barang-barang industry yang sederhana, pada saat produksi barang-barang ini suudah tidak menguntungkan lagi di Negara-negara pusat, karena upah buruh yang meningkat.

   Kritik yang diberikan kepada teori system dunia dari Wallerstein adalah perhatiannya yang kurang terhadap struktur internal dari Negara-negara yang ada. dinamika utama diberikan kepada faktor eksternal. kalau pada teori ketergantungan, factor eksternal ini Negara-negara pusat yang lebih kuat, pada teori system dunia factor eksternal ini adalah system dunia yang merupakan hasil interaksi dari Negara-negara yang ada.
Dengan demikian, teori system dunia berlainan dengan teori artikulasi, yang lebih mementingkan analisis pada kondisi internal yang ada didalam negeri Negara-negara yang diteliti tetapi, tentu saja tidak berarti bahwa teori sistem dunia tidak memperhatikan faktor-faktor internal, dan teori Artiktulasi tidak tidak memperhatikan faktor eksternal. Keduanya hanya berbeda pada tekanan yang diberikan pada faktor-faktor tersebut.

   Teori artikulasi dan teori system dunia merupakan dua teori baru dalam kelompok teori-teori pembangunan yang mencoba memecahkan masalah-masalah yang terdapat pada teori ketergantungan. tidak terlalu salah bila dikatakan bahwa teori artikulasi merupakan pengembangan dari “teori” yang dikembangkan oleh Fernando Hendrique Cardoso, sedangkan teori system dunia dari teori ketergantungan Andre Gunder Frank. Tetapi, sambil memecahkan persoalan-persoalan yang ada, teori-teori baru ini juga menciptakan persoalan-persoalan baru.
Tampaknya, memang begitulah perkembangan dunia ilmu: penyempurnaan melahirkan lagi tantangan baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar