BAB III
TEORI KETERGANTUNGAN (1): PARA PENDAHULUNYA
Pada bagian ini membahas teori-teoi yang merupakan
pendahuluan bagi munculnya teori ketergantungan. teori ketergantungan memakai
pendekatan struktural. karena itu, teori ini dapat digolongkan ke dalam
kelompok teori Struktural.
I.
SERBA SEDIKIT TENTANG TEORI STRUKTURAL
Teori
struktural sebenarnya merupakan teori-teori yang memakai pendekatan sruktural.
teori
struktural sendiri memang berpangkal pada filsafat naturalisme yang
dikembangkan oleh Karl Max. tetapi, diuraikan diatas, teori ketergantungan
menambah tesis Max yang menyatakan bahwa kapitalisme akan menjadi cara produksi
tunggal, dan menciptakan proses maupun struktural masyarakat yang sama di semua
Negara yang ada di dunia ini.
1.
Raul Prebisch: Industri Substitusi
Impor
Raul prebisch adalah seorang ahli ekonomi Liberal, yang
menjadi sekretaris eksekutif sebuah lembaga PBB yang didirikan pada tahun 1948
di Santiago de Chile. Prebisch adalah presiden direktur Bank sentra Argentina.
pada tahun 1950 perhatian Prebisch tertuju pada persoalan yang di uraikan di atas:
mengapa Negara-negara yang melakukan spesialisasi di bidang industry menjadi
Negara-negara kaya, sedangkan mereka yang memilih bidang pertanian tetap saja
miskin.
Prebisch menunjukan pada penurunan nilai tukar dari
komoditif pertanian terhadap komoditi barang industry. barang-barang industry
menjadi semakin mahal di bandingkan dengan barang-barang hasil pertanian.
gejala yang jelaskan pertama: karena
permintaan untuk barang-barang pertanian tidak elastic. disini berlaku apa yang
disebut sebagai Hukum Engels, yang
menyatakan bahwa pendapatan yang meningkat menyebabkan prosentasi konsumsi
makanan terhadap pendaptan jusruh menurun. kedua:
Negara-negara industry sering melakukan proteksi terhadap hasil pertanian
mereka sendiri, sehingga sulit bagi Negara pertanian untuk mengekpornya kesana.
nin memperkecil jumlah ekspor Negara pinggiran ke Negara pusat. ketiga: kebutuhan akan bahan
mentah bisa dikurangi sebagai akibat dari adanya penemuan-penemuan
teknologi baru yang bisa membuat bahan-bahan mentah sintesis. hal ini
memperkecil jumlah ekpor dari Negara-negara pinggiran ke Negara pusat.
Prebisch juga merupakan orang pertama yang mencetuskan
istilah Negara pusat untuk Negara-negara industry maju, Negara pinggiran untuk
Negara-negara pertanian yang belakang. istilah ini kemudian menjadi istilah
kunci yang sering dipakai oleh para penganut teori ketergantungan.
2.
Perdebatan tentang Imperialism dan
Kolonialisme
Ada tiga kelompok teori tentang imperialisme dan
kolonialisme yakni:
a)
kelompok teori
yang menekankan pada idealisme manusia dan keinginannya untuk menyebarkan
ajaran tuhan, untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
b)
kelompok teori
yang menekankan kehausan manusia terhadap kekuasaan, untuk kebesaran pribadi
maupun kebesarab masyarakat dan kebesaran Negaranya.
c)
kelompok teori
yang menekankan pada keselarasan manusia, yang selalu berusaha mencari
tambaahan kekayaan, yang dikuasai oleh kepentingan ekonomi.
Ketiga kelompok ini dirumuskan sebagai kelompok-kelompok
teori God. pembahasan tentang teori kelompok-kelompok ini:
a.
Teori God
adalah teori yang menyatakan bahwa motivasi utama dari orang-orang eropa untik
mengurangi samudra dan bertualang di Negara-negara lain adalah untuk
menyelamatkan agama.
b. Teori Glory
menjelaskan bahwa dorongan utama dari implerialisme dan kolonialisme bukan
kepentingan agama atau ekonomi, melainkan kehausan akan kekuasaan.
c. Teori Gold
menjelaskan implerialisme dan kolonialisme melali motivasi keuntungan ekonomi.
3.
Paul Baran: Sentuhan yang mematikan dan
Kretinisme
Paul baran adalah seorang pemikir Marxis yang menolak
pandangan Marx tentang pembangunan di Negara-negara dunia ketiga.
Baran menyatakan bahwa perkembangan kapitalisme di Negara-negara
pinggiran berbeda dengan perkembangan kapitalisme di Negara-negara
pusat.dinegara-negara pinggiran, system kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme. orang yang dihinggapi
penyakit kerdil dan tidak bisa besar.
menurut Baran kapitalisme di Negara-negara pusat bisa
nerkembang karena adanya persyaratan:
a.
meningkatnya
produksi diikuti dengan tercabutnya masyarakat petani dari padesaan.
b. meningkatnya
produksi komoditi dan terjadinya pembagian kerja mengakibatkan sebagian orang
menjadi buruh yang menjual tenaga kerjanya sehingga sulit menjadi kaya, dan
sebagian lagi menjadi majikan yang bisa mengumpulkan harta.
c.
mengumpulnya
harta ditangan para pedagang dan tuan tana
BAB IV
TEORI KETERGANTUNGAN (2): INTI PEMIKIRANNYA
Teori ketergantungan sendiri kemudian menentang pendapat
kaum Marxis klasik yang beranggapan bahwa (1) Negara-negara pinggiran yang
prakapitalis merupakan Negara-negara yang tidak dinamis, yang memakai cara
produksi asia yang berlainan dengan cara produksi feudal di eropa yang
menghasilkan kapitalisme, dan (2) Negara-negara pinggiran ini, setelah disentuh
oleh kapitalis maju, akan bangun dan berkembang mengikuti jejak Negara-negara
kapitalis maju.
Theotonio Dos Santos member devinisi tentang teori
ketergantungan:
Yang dimaksud dengan teori ketergantungan adalah keadaan
dimana kehidupan ekonomi Negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan
dan ekspansi dari kehidupan ekonomi Negara-negara lain, dimana Negara-negara tertentu
ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. hubungan saling bergantung
antara dua sistem-sistem ekonomi ini dengan perdagangan dunia, menjadi hubungan
ketergantungan bila ekonomi beberapa Negara (dominan) bisa berekspansi dan bisa
berdiri sendiri, sedangkan ekonomi Negara-negara lainnya (yang tergantung)
mengalami perubahan hanya sebagai akibat dari ekspresi tersebut, baik positif
maupun negatif.
I.
TEORI KETERGANTUNGAN KLASIK
a.
Andre Gunder Frank: Pembangunan keterbelakangan
Frank adalah seorang ekonomi Amerika yang kemudian
bekerja pada Economic Commission for Latin Amerika bersama
Raul Prebisch.
keterbelakangan adalah sebuah proses ekonomi, politik
sosial yang terjadi sebagai akibat globalisasi dari system kapitalisme.
keterbelakangan di Negara-negaa pinggiran yang di katakan oleh Frank disebut
sebagai (Negara satelit) adalah akibat langsung dari terjadinya pembangunan di
Negara-negara pusat (Negara-negara metropolis).
Pada teori Frank jelas ada tiga komponen utama:
a.
Modal asing
b.
Pemerintah
lokal di negara-negara satelit
c.
Kaum
berjuasinya
ciri-ciri dari perkembangan dari kapitalisme satelit
adalah:
a.
kehidupan
ekonomi yang tergantung
b.
terjadinya
kerja sama antara modal asing dengan klas-klas yang berkuasa di Negara-negara
satelit, yakni para penjabat pemeritah, klas tuan tanah dan klas pedagang, dan
c.
terjadinya
ketimpangan antara yang kaya (klas yang dominan yang melakukan ekploitasi) dan
yang miskin (rakyat jelata yang dieksplotir) di Negara-negara satelit.
b.
Theotonio Dos Santos: Membatah Frank
Dos Santos adalah orang yang memberi definisi
ketergantungan, dia menyatakan bahwa Negara-negara pinggiran atau satelit bisa jiga
berkembang, meskipun perkembangan ini merupakan perkembangan yang tergantung,
perkembangan ikutan. implus dan dinamika perkembangan ini tidak datang dari
Negara-negara satelit, tetapi dari Negara induknya. Frank dan Dos Santos
adalah tokoh yang sama mengemukakan tentang ketergantungan namun tetap
berbeda pendapat dalam beberapa hal.
Dos Santos membedakan tiga bentuk ketergantungan yakni:
a.
ketergantungan
Kolonial
kegiatan
ekonomi utama adalah perdagangan ekspor dari hasil bumi yang dibutuhkan oleh
Negara penjajag.
b.
ketergantungan
finansial-industrial.
Negara pusat
penanam modalnya, baik langsung atau melalui kerjasa dengan pengusaha lokal
untuk menghasilkan bahan baku ini.
c.
ketergantungan
teknilogi-industrial
kegiatan
ekonomi di Negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan mentah untuk
keperluan industry di Negara pusat.
Ada tiga hambatan yang di bahas oleh Dos Santos:
1. Negara-negara
pinggiran yang mau melakukan industrialisasi membutuhkan valuta asing untuk
mengimpor teknologi.
2.
Neraca
perdagangan internisional Negara-negara pinggiran terus mengalami defisit,
karena:
a.
Nilai tukar
yang terus menurun dari komoditi primer terhadap industri, sebagai akibat harga
barang-barang industry yang terus meningkat.
b. Di
Negara-negara pinggiran, sektor ekonomi yang paling dinamis biasanya dikuasai
oleh modal asing.
c.
oleh karena
itu, pinjaman luar negeri menjadi tinggi.
3.
Adanya monopoli
teknologi dari Negara-negara pusat membuat Negara-negara pinggiran harus
membayar sewa billa mau meminjam teknologi tersebut.
II.
MEMBANTAH TEORI KETERGANTUNGAN:
INDUSTRIALISASI DI NEGARA PINGGIRAN
Teori ketergantungan adalah tentang kemungkinan pertumbuhan ekonomi melalui
industrialisasi di Negara-negara pinggiran. kritik ini sebenarnya diarahkan
kepada Paul Baran dan Andre Gunder Frank yang menyatakan bahwa proses
industrialisasi akan dihambat karena elite yang dominan di Negara pinggiran
yakni kelompok tuan tanah dan para pedagang serta Negara yang dikuasai oleh
kelompok tuan tanah, akan lebih diuntungkan bila barang-barang industry
diperoleh melalui impor dan luar negeri.
Pengalaman empiris menunjukan bahwa prospek bagi pembangunan kapitalis yang
berhasil(artinya industrialisasi) pada sejumlah besar Negara-negara berkembang
yang utama, tampaknya cukup baik, bahwa kemajuan yang berarti dari
industrialisasi kapitalis memang telah tercapai, bahwa priode setelgah perang
Dunia II ditandai dengan perkembangan yang berhasil dari kapitalisme di Dunia
ketiga (terutama dalam industrialisasi)…. bahwa kebijakan Negara-negara
imprelialis dan dampaknya terhadap dunia ketiga dalam kenyataannya mendorong
proses industrialisasi, bahwa ikatan ketergantungan… menjadi semakin kendor…
semua ini tidak berarti bahwa imperlialisme sudah hilang. imperlialisme memang
masih ada sebagai sebuah system ketimpangan, dominasi dan eksloitasi. yang mau
di katakan di sini adalah tidak bisa di sangkai bahwa perubahan-perubahan telah
terjadi.
Dengan demikian lahirlah apa yang disebut oleh Evans sebagai Aliansi Tripel,
yakni kerjasama antara: (1) modal asing, (2) pemerintah di Negara pinggiran
yang bersangkutan, dan (3) berjuasi lokal. Tujuan kerjasama tersebut terutama
adalah untuk mendapatkan legitimasi politik, supaya pemerintah tersebut dapat
diterima sebagai Negara nasional yang memperjuangkan kepentingan bangsa.
nosionalisme
memberikan basis ideology bagi terselenggaranya akumulasi modal di Negara
tersebut, dank arena itu sangat berguna untuk berargumentasi melawan
perusahaan-perusahaan multinasional. nasionalisme memberikan legitimasi bagi
birokrat pemerintah untuk menjalankan perannya di mata borjuasi lokal.
Nasionalisme juga merupakan satu-satunya basis dimana pemerintah dapat
menyatakan kepada rakyat banyak bahwa mereka sedang menjalankan pembangunan
nasional, yang hasilnya nanti akan dinikmati oleh segala lapisan masyarakat.
Demikian Evans memberikan ciri-ciri dari apa yang
disebutnya sebagai pembangunan dalam ketergantungan, lengkap denagan analisis
tentang aliansi tripelnya.
Kalau ketergantungan klasik dihubungkan dengan Negara
yang lemah, pembangunan dalam ketergantungan di hubungkan dengan Negara yang
kuat. bahkan konsolidasi Negara hingga menjadi kuat dapat dikatakan
menjadi prasyarat bagi terjadinya tahap pembangunan dalam ketergantunagan.
III.
TEORI KETERGANTUNGAN: KRITIK DAN
POLEMIK SELANJUTNYA
1.
Kritik Packenham
Mila-mula
menyebutkan kekuatan dari Teori Ketergantungan. Dia mencatat:
1. teori
ketergantungan menekankan aspek internasional dari pembangunan nasional di
Negara-negara Amerika latin. Aspek ini kurang di perhatikan pada teori-teori
yang ada sebelumnya.
2. Teori
ketergantungan mempersoalkan akibat dari politik luar negeri Negara-negara
industry terhadap Negara-negara pinggiran (dalam hal ini di Negara-negara
Amerika latin). pendekatan yang kedua ini kurang bisa melihat dinamika yang ada
di Negara-negara berkembang.
3. Teori
ketergantungan membahas proses internal dari perubahan di Negara-negara
pinggiran dengan mengaitkannya pada politik luar negeri negara-negara maju.
4.
Teori
ketergantungan menekankan kegiatan sektor swasta dalam hubungannya dengan
kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional, disamping kegiatan pada publik
seperti bantuan luar negeri dan diplomasi politik.
5.
Teori
ketergantungan membahas hubungan antar-klas yang ada didalam negeri maupun
hubungan klas antar-negara dalam konteks internasional.
6. Teori
ketergantungan memberikan kritik yang baik terhadap definisi yang ada tentang
pembangunan ekonomi. teori ketergantungan mempersoalkan bagaimana kekayaan
nasional ini dibagikan di antara klas-klas sosial, antar-daerah, dan
antar-negara.
Kemudian Packenham, dalam sisa tulisannya, membahas
kelemahan dari teori ketergantungan:
1.
Teori
ketergantungan hanya menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab ketergantungan,
tanpa mempersoalkan perbadaan-perbadaan kekayaan dan kekuasaan pada system
ekonomi yang lain.
2.
Konsep-konsep
inti, termasuk konsep ketergantungan ini sendiri, kurang didefinisikan secara
jelas.
3.
Ketergantungan
didefinisikan sebagai konsep dikotomi. padahal, semua Negara tidak ada yang
sepenuhnya tergantung, juga tidak sepenuhnya otonom.
4.
Sedikit sekali
dibicarakan tentang proses yang memungkinkan sebuah Negara bisa lepas dari
ketergantungannya. Frank menyebutkan sebuah revolusi sosialis. Helio Jaguaribe
menyebut dua cara: (a) melalui reformasi, yakni melalui kebijakan pembangunan
yang nasionalis yang merupakan kombinasi antara kapitalisme nasional dan
kapitalisme Negara. (b) melalui jalan revolusi.
5.
Ketergantungan
selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif, meskipun dalam situasi tertentu
sebenarnya dapat berakibat positif.
6.
Otonomi selalu
dianggap baik, padahal tidak demikian halnya. Seperti juga ketergantungan tidak
selalu buruk, begitu juga otonomi tidak selalu baik.
7.
Teori
ketergantungan kurang membahas aspek psikologis dari ketergantungan.
8.
Teori
ketergantungan agak menyepelekan kekuatan dari nasionalisme di Amerika Latin,
meskipun secara normatif teori ini member nilai yang tinggi terhadap nasionalisme.
9.
Teori
ketergantungan sangat menekankankonsep kepentingan kelompok, klas dan Negara,
seakan-akan konsep-konsep ini merupakan sesuatu yang jelas dan objektif.
10. Teori
ketergantungan seringkali terlalu jauh beraggapan bahwa ada kepentingan yang
bebeda antara Negara-negara pusat dan Negara-negara pinggiran.
11. Teori
ketergantungan, karena ketidak jelasan konsepnya, tidak bisa diuji
kebenarannya.
12. Teori
ketergantungan terlalu meremehkan kebebasan bertindak dari pada actor politik
di Negara-negara yang di kaji.
13. akibat-akibat
dari ketergantungan kurang dikaji secara rinci dan tajam.
2.
Penelitian Chase-Dunn
Dia menguraikan
tentang mekanisme investasi asing dan ketergantungan pada utang mengakibatkan
pertumbuhan ekonomi yang negative.
a.
Akibat
investasi asing, sumber-sumber alam di Negara pinggiran jadi habis. laba dari
invetasi diangkut ke luar negeri. Negara-negara pinggiran kehilangan sumber
bagi pembangunan.
b.
Produksi yang
berorientasi ke luar negeri dan masuknya perusahaan-perusahaan multinasional
mengubah struktur ekonomi Negara pinggiran.
c. Hubungan antara
elite di Negara pusat dan pinggiran mencegah terjadinya pembangunan nasional,
karena ini akan merugikan kepentingan mereka.
Investasi modal asing bisa juga berakibat positif bagi
pertumbuhan ekonomi Negara pinggiran:
a. Modal asing
langsung memproduksikan barang dan menimbulkan permintaan bagi barang-barang
lain yang diperlukan bagi produksi tersebut.
b. Utang luar
negeri membiayai pembangunan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk pembangunan.
c. Terjadi
transfer teknologi, perbaikan kebiasaan kerja, modernisasi organisasi
pembangunan, dan sebagainya berguna bagi pembangunan.
3.
Komentar kardoso
Cardoso menguraikan lahirnya diskusi
tentang lahirnya masalah ketergantungan dibeberapa Negara Amerika Latin.
yang dipersoalkan pada waktu itu adalah bagaimana mengerti proses
historis terjadinya keterbelakangan di Negara-negara tersebut. mereka ingin mengerti
apa yang terjadi dengan struktur sosial politik dan sosial ekonomi di
Negara-negara pinggiran, yang memproduksikan keterbelakanga, setelah disentuh
oleh Negara-negara kapitalis maju.
Yang dibahas diatas merupakan topik, kritik dan polemik
dari beberapa penganut dan penentang teori ketergantungan. pembahasannya serba
singkat. masih banyak persoalan serba nuansa teorin ketergantungan yang belum
sempat dibacarakan.
Sekarang akan dicoba disimpulkan beberapa topik
utama yang menjadi inti teori ketergantungan. inti ini sudah dibicarakan dalam
pembahasan diatas, baik dalam bentuk uraian yang agak panjang ataupun hanya
disinggung saja. Fungsi dari kesimpulan ini, di samping untuk mengingatkan dan
menyatukan masalah yang sudah dibahas, juga memberi tekanan dan pembahasan
lebih lanjut pada masalah-masalah yang baru disinggung, atau belum dibahas pada
uraian di atas.
Ada 6 pokok-pokok pembahasan menurut Blomstrom dan Hetten
yang menjadi inti pembahasan teori ketergantingan yakni:
1.
Pendekatan keseluruhan melawan
pendekatan kasus.
Gejala
ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhannya yang memberi tekanan
pada system dunia. ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, di
mana Negara-negara pinggiran kebagian peran sebagai pelengkap penyerta saja.
keseluruhan dinamika dan mekanisme dunialah yang menjadi perhatian pendekatan
ini. kasus Negara-negara yang ada hanya merupakan bagian dari keseluruhan
dinamika ini, yang tidak banyak menentukan. Andre Gunder Frank, misalnya,
merupakan wakil dari pendektan ini.
Pendekatan lain lebih mengutamakan analisis pada arah
kasus negara-negara yang tergantung. jadi pada aspek unsure atau komponen dari
lkeseluruhan ini. misalnya, Cardoso yang menentukan bahwa analisis
ketergantungan empiris lebih memperhatikan proses-proses yang terjadi di Negara
yang tergantung, dari pada teori-teori umum yang bersifat makro.
2.
Faktor Eksternal melawan Internal
Persoalannya, factor apa yang paling
menentukan dalam proses pembangunan di Negara-negara pinggiran, factor
eksternal atau internal?
Sebagai pengikut teori ketergantungan beranggapan bahwa
faktor eksternallah yang lebih penting. tentu saja, ini tidak berarti factor
internal tisak berperan. tetapi factor eksternal lebih ditekankan, seperti
misalnya pada tulisan-tulisan Frank. Dos Santos secara lebih lunak berbicara
tentang factor ekternal yang mempengaruhi proses pembangunan di Negara-negara
pinggiran, bukanmenentukan. memang dia tidak merinci secara jelas perbedaan
kedua istilah ini. tetapi kelas dia menentukan pentingnya pengaruh dari luar,
meskipun tidak mutlak menentukan. Artinya, factor-faktor unternal pun berperan.
Kelompok kedua penganut teori ketergantungan lebih
menekankan factor internal. Cardos dan Faletto menekankan factor internal ini.
Reaksi dari tiap-tiap Negara terhadap pengaruh factor eksternal berbeda-beda,
tergantung dari perbedaan aliansi klas yang ada di dalam negeri masing-masing
Negara tersebut. Augustin Cueva, seperti dikutip oleh Blomstrom dan Hetten
bahkan menyatakan: bukankah kondisi yang ada di dalam negeri sendiri yang
menentukan hubungan kita dengan kapitalisme dunia? Ini jelas menunjukkan bahwa
factor internal menjadi sangat penting dalam menentukan analisis tentang gejala
ketergantungan.
3.
Analisis Ekonomi melawan Analisis
Sosiopolitik
Pencetus teori ketergantunagan, dan
pemikir-pemikir sesudahnya, kebanyakan adalah para ekonomi. Raul Prebisch
sendiri memulainya dengan memakai analisis ekonomi., dan penyelesaian yang
ditawarkannya juga bersifat agak murni ekonomi. Andre Gunder Frank juga seorang
ekonomi meskipun analisisnya banyak memakai disiplin ilmu sosial lainnya,
terutama sosiologi dan politik. dengan demikian, teori ketergantungan dimulai
sebagai masalah ekonomi, dan baru kemudian berkembang menjadi analisis sosial
politik., dimana analisis ekonomi merupakan bagian dari pendekatan yang multi
dan interdisipliner ini.
sosiopolitik terutama menekankan pembahasan tentang
analisis klas, kelompok-kelompok sosial, dan peran pemerintah di Negara-negara
pinggiran. Cardoso dan Faleto banyak membahas stuktur sosial yang ada di Negara
pinggiran, serta proses pengambilan keputusan oleh Negara.
4.
Kontradiksi sektoral/regional melawan
kontradiksi klas
salah satu kelompok penganut teori
ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan Negara-negara
pinggiran. ini merupakan analisis yang memakai kontradiksi regional. sekali
lagi, Frank dapat dianggap sebagai tokoh untuk kelompok ini. hubungan
antar-negara dalam system ekonomi kapitalisme global menjadi perhatian utama.
sedangkan kelompok lainnya lebih menekankan analisis
klas, seperti misalnya Cardoso, meskipun perlu dicatat bahwa Cardoso selalu
mengingatkan bahwa klas yang ada di Negara-negara pinggiran berbeda dengan klas
di Negara-negara pusat. analisis Cardoso memang selalu meletakkan permasalahan
dalam konteks dimana masalah mengejala.
5.
Keterbelakangan melawan pembangunan
Teori ketergantungan sering disamakan
dengan toeri tentang keterbelakangan dunia ketiga. ketergantungan selalu berarti
keterbelakangan, seperti yang dinyatakan oleh Frank.
para pemikir teori ketergantungan yang belakangan,
meragukan tesis ini. Dos Sandos, Cardoso, Evans dan banyak lagi yang lain
menyatakan bahwa ketergantunagan tidak selalu berarti keterbelakangan. yang
perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang
terjadi dalam konteks ketergantungan. Cardoso kemudian mengembangkan konsep association dependent delopment
sedangkan Evans mengemukakan istilah dependent
delopment.
6.
Voluntarisme melawan Determinisme
penganut Marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai sesutau yang
deterministik. masyarakat misalnya, pasti akan berkembang sesuai dengan
harapannya: dari feodalisme ke kaputalisme, dan baru kemudian sampai pada
sosialisme. karena itu, ketika teori ketergantungan berkembang di Amerika
latin, banyak pemikir Marxis beranggapan bahwa mereka harus menciptakan
kapitalisme dulu, (karena mereka beranggapan bahwa masyarakat Amerika latin
masihfoedal), sebelum mengubahnya menjadi Negara sosialis.
Penganut noe-Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya
melalui teori ketergantungan.
menurut dia, masyarakat amerika latin bukan
foedal, melainkan sudah kapitalistik. tetapi, berdeda dengan kaputalisme di
Negara-negara pusat, nasib kapitalisme di Negara-negara pinggiran adalah
keterbelakangan. karena itu, perlu di ubah menjadi Negara sosialis melaluyi
sebuah revolusi. kita tidak bisa menunggu sampai Negara-negara pinggiran ini
mengembangkan kapitalisme sendiri seperti di eropa, karena hal ini tidak akan
terjadi. dalam hal ini, Frank menjadi penganut teori voluntiaristik. demikian
juga para penganut teori ketergantungan yang lain, yang menolak teori tahapan
yang ministik dari para penganut teori Marxis klasik.
BAB V
TEORI
PASCA-KETERGANTUNGAN: PERKEMBANGAN BARU
Apa hubungan antara teori system dunia ini dengan teori ketergantungan?
Pertama, terjadi persamaan yang dekat antara teori ini dengan teori
ketergantungan Andre Gunder Frank, keduanya melihat Negara tidak bisa analisis
secara mandiri, terpisah dari totalitas system dunia. tetapi berbeda dengan
Frank yang melihat hubungan antara Negara pinggiran dan Negara pusat sebagai
hubungan yang selalu merugikan Negara yang pertama, Wallerstein tidak
sepesimis itu. bagi Wallerstein, dinamika sistem dunia, yakni kapitalisme
global, selalu memberikan peluang bagi Negara-negara yang ada untuk naik atau
turun kelas. system dunia yang dulu memberikan keunggulan pada Negara-negara
yang bisa menghasilkan komoditi primer, pada saat lain keunggulan ini beralih
kepada Negara-negara yang mengembangkan industrinya. system dunia ini juga yang
kemudian member kesempatan kepada Negara-negara pinggiran yang sudah relatif
siap untuk mengambil alih kesempatan untuk melakukan produksi barang-barang
industry yang sederhana, pada saat produksi barang-barang ini suudah tidak
menguntungkan lagi di Negara-negara pusat, karena upah buruh yang meningkat.
Kritik yang diberikan kepada teori system dunia dari
Wallerstein adalah perhatiannya yang kurang terhadap struktur internal dari
Negara-negara yang ada. dinamika utama diberikan kepada faktor eksternal. kalau
pada teori ketergantungan, factor eksternal ini Negara-negara pusat yang lebih
kuat, pada teori system dunia factor eksternal ini adalah system dunia yang
merupakan hasil interaksi dari Negara-negara yang ada.
Dengan demikian, teori system dunia berlainan dengan
teori artikulasi, yang lebih mementingkan analisis pada kondisi internal yang
ada didalam negeri Negara-negara yang diteliti tetapi, tentu saja tidak berarti
bahwa teori sistem dunia tidak memperhatikan faktor-faktor internal, dan teori
Artiktulasi tidak tidak memperhatikan faktor eksternal. Keduanya hanya berbeda
pada tekanan yang diberikan pada faktor-faktor tersebut.
Teori artikulasi dan teori system dunia merupakan dua teori
baru dalam kelompok teori-teori pembangunan yang mencoba memecahkan
masalah-masalah yang terdapat pada teori ketergantungan. tidak terlalu salah
bila dikatakan bahwa teori artikulasi merupakan pengembangan dari “teori” yang
dikembangkan oleh Fernando Hendrique Cardoso, sedangkan teori system dunia dari
teori ketergantungan Andre Gunder Frank. Tetapi, sambil memecahkan
persoalan-persoalan yang ada, teori-teori baru ini juga menciptakan
persoalan-persoalan baru.
Tampaknya, memang begitulah perkembangan dunia ilmu:
penyempurnaan melahirkan lagi tantangan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar